sesekali lagi,
aku masih melihat parasmu
dari jendela jeruji kediaamku
yang tengah berkawan dengan sunyi
kulihat mata yang sayu
perlahan lahan bergerak
membuka harapan baru
setelah sepakat engkau
ombang ambingkan pikiranmu
dilautan perasaanmu sendiri
kilasan uraian rambutmu
menjelaskan sgalanyaa
entah, seberat itukah..
frekuensi ego yang kau
sebut getaran cinta
hingga bibirmu tak mampu
menyunggih awan senyum
cintailah dirimu
sebelum menuai cintanya
petah tutur teman seranjangmu
mencobaa memahami
sebenarnya kau tau
sebernarnya engkau mengerti
hanya engkau mebiaskan
dirimu, seperti lalu
engkau tauu
ketidak abadian itu abadi
perasaanmu pikiranmu
cara pandang dan orang lain
jangan kau lampirkan rasa keakuanmu
aliri sajaa dengan damai kita
damai cintai kasihi sayangi dirimu ..